Berhentilah Menggunakan Istilah Bahan Bakar Air

Artikel ini dilihat sebanyak 23,226 kali

Kalau kita iseng googling kata bahan bakar air maka kita akan menemukan seabrek berita atau gambar tentang penggunaan air sebagai bahan bakar. Mulai dari siswa SMA/K, Guru, Mahasiswa, Dosen, Ilmuwan bahkan masyarakat umum mengklaim menemukan cara mengubah air menjadi bahan bakar. Lebih parah lagi, media-media online dengan penuh kelebayannya memberitakan hingga beberapa halaman google isi nya penemuan bahan bakar air. Sebenarnya hal ini juga gak terjadi cuma di Indonesia, di luar negeri pun berita semacam ini gak kalah banyaknya.

bahan bakar air

“too good to be true” bisa jadi istilah yang terlalu halus untuk menggambarkan hal ini. Kalau mau lebih jujur maka “hoaks atau berita sampah” barangkali lebih sesuai. Mengapa bisa begitu? Saya akan coba bahas dari sudut padang keilmuawan saya di bidang kimia

Sebuah mimpi

Coba kita bayangkan punya motor atau mobil yang tangki bahan bakarnya bukan lagi Pertamax, tapi air, suatu benda yang dengan mudah kita peroleh. Tentu sangat menyenangkan dan memudahkan. Dari bandung ke jakarta yang jaraknya sekitar 120 km biasanya butuh 100 ribu bensin (perkiraan saya sih..) jika menggunakan bahan bakar air maka tidak sampai 10 ribu rupiah.  Apalagi saat ini kita berada di suatu zaman dimana ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sangat besar, padahal minyak bumi, gas alam, dan batubara merupakan sumber daya tak terbaharukan. Oleh karena itu, jika ada  invention tentang bahan bakar air maka media massa akan sangat menyukainya terlepas itu benar atau tidak.

bahan bakar air

Batasan tulisan ini

Saya membatasi bahan bakar air hanya untuk energi yang berasal dari zat air itu. Jadi PLTA yang menggunakan energi potensial gravitasi air, saya tidak masukkan dalam pembahasan ini.

Inilah kenyataannya

Sunatullah telah menunjukkan bahwa sebagian besar permukaan bumi ditutupi air. Hal ini tidak berlangsung seabad-dua abad, tapi jutaan tahun sejak bumi tercipta. Hal ini menunjukkan bahwa air merupakan suatu zat yang sangat stabil atau dalam bahasa ilmu kimia, sudah berada di tingkat energi yang sangat rendah. Kalau kita iseng menyiram api dengan air maka api bukan malah membesar, namun justru malah padam (Apakah api itu dan mengapa air memadamkannya?). Padahal untuk bisa menjadi bahan bakar, suatu zat apapun harus  berada di tingkat energi yang tinggi atau bahasa awamnya bisa bereaksi dengan udara (oksigen). Air harus diubah atau diuraikan menjadi gas hidrogen agar bisa menjadi bahan bakar (sebenarnya yang jadi bahan bakar nanti adalah hidrogen .. 🙂 ).

Proses penguraian air menjadi gas hidrogen ini membutuhkan energi yang tidak sedikit. Setiap perngurain 1 liter air menjadi gas hidrogen dan oksigen membutuhkan energi setidaknya  15.800 kJ atau setara dengan energi yang dilepaskan oleh pembakaran setengah liter bensin. Ini tentu saja dengan asumsi efesiensi penguraian air berlangsung 100% padahal kenyataanya hal ini tidak mungkin. Oleh sebab itu, jika ada informasi apapun tentang bahan bakar air baik dari media massa, artikel, dll maka hal ada dua yang perlu kita cermati, yaitu:

  1. Energi apakah yang digunakan untuk menguraikan air menjadi hidrogen? Apakah lebih murah dan sustainable dibandingkan bahan bakar fosil atau setidaknya dibandingkan bahan bakar nabati seperti biofuel dan biodiesel?
  2. Bagaimana metode proses penguraiannya?

Baca Selengkapnya

Related Post