Dicari : pengganti sawit untuk biodiesel

Artikel ini dilihat sebanyak 383 kali

Biodiesel merupakan istilah untuk bahan bakar dari campuran solar dengan metil ester lipid (komponen nabati). Jumlah kandungan nabati biasanya disimbolkan dalam B. Misal Biodiesel yang dipakai saat ini B10 memiliki kandungan nabati 10% dan solar 90%. Komponen nabati biasanya dihasilkan dari minyak nabati (sawit, jarak, dan sebagainya) yang diproses melalui transesterifikasi. Pemerintah melalui kementerian ESDM mentargetkan komponen nabati menjadi 20% (B20). Saat ini semua komponen nabati berasal dari minyak kelapa sawit.

Ilustrasi-Kebakaran-Hutan

Akan tetapi, bencana asap yang melanda pulau Sumatera dan pulau Kalimantan serta beberapa pulau lain mengingatkan kita bahwa perkebunan sawit yang sedang gencar saat ini sangat tidak ramah lingkungan. Pembakaran hutan untuk perkebunan sawit di Indonesia telah memasuki fase yang sangat serius. Selain itu, tanaman sawit yang memiliki nama latin Elaeis guineensis dikenal sangat boros air. Satu pohon sawit dewasa membutuhkan sekitar 20 liter air per hari. Jika tidak diimbangi dengan sistem pengairan yang baik maka bukan tidak mungkin tanah yang subur di Sumatera dan Kalimantan akan menjadi kering dan tandus sebagaimana gurun pasir. Selain itu, konversi hutan menjadi perkebunan sawit juga telah mengancam kelestarian flora dan fauna di kedua pulau tersebut. Sering kita mendengar orang utan dibunuh secara keji di perkebunan sawit karena dianggap hama. Hal ini menandakan kerusakan yang ditimbulkan oleh perkebunan sawit lebih besar dibandingkan kerusakan yang ditimbulkan pembakaran dan eksplorasi minyak bumi.

Di samping itu, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel juga bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia. Saat ini produk olahan sawit sangat banyak dikonsumsi manusia meliputi minyak goreng, mentega, sabun, dan sebagainya. Kebutuhan ini sangat besar dan susah disubtitusi dengan produk lain sehingga sangat mempengaruhi supply CPO untuk biodiesel. Saat harga CPO tinggi maka produsen sawit lebih memilih menjual untuk konsumsi, sedangkan saat harga jatuh mereka meminta pemerintah untuk menekan perusahaan energi untuk membeli CPO mereka. Hal ini tentu saja sangat tidak baik untuk penyediaan biodiesel.

Upaya mencari sumber minyak nabati lain untuk produksi biodiesel sebenarnya sudah dilakukan sejak. Zaman dulu pernah heboh minyak jarak untuk biodiesel bahkan pemerintah membagi-bagi alat pengepres minyak jarak ke UKM. Ide sih sederhana yaitu sumber minyak nabati yang tidak bersaing dengan konsumsi manusia. Namun, euforia tersebut saat ini nyaris tidak berbekas. Ide minyak jarak bisa dikatakan gagal dibuat skala lebih besar disamping tentu saja zaman itu aturan penggunaan komponen nabati di solar tidak seketat sekarang.

Selain itu, di jurusan tempat saya kuliah dulu juga ada beberapa penelitian tentang alga (sejenis plankton) untuk produksi minyak. Ide awalnya juga sangat sederhana, yaitu Indonesia memiliki garis pantai yang sangat panjang. Bisa dibayangkan jika di garis pantai tersebut kita “tanam” alga maka potensinya sangat besar. Minyaknya bisa kita manfaatkan untuk biodiesel sedangkan ampasnya untuk pangan dan pakan. Kendala yang dihadapi saat itu adalah rendahnya jumlah minyak yang dihasilkan dan rentannya ketahanan hidup alga tersebut. Hingga kini, sudah lima tahun, saya meninggalkan kampus sepertinya kendala tersebut belum bisa diatasi. Saya secara pribadi menyakini bahwa alga tidak bisa digunakan untuk produksi biodiesel skala besar.

algae-biofuel

Itulah salah satu tantangan ilmu pengetahuan saat ini, terutama yang di bidang kimia, biokimia, biologi, mikrobiologi, dan pertanian. Kebutuhan minyak nabati untuk biodiesel adalah suatu keniscayaan dan juga aturan. Kita harus segera menemukan penghasil minyak nabati pengganti minyak sawit untuk biodiesel. Jika tidak maka kita hanya akan memindahkan kerusakan alam, bahkan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Related Post