Kayyisah dan Kata “Jangan”

Artikel ini dilihat sebanyak 521 kali

Kita hidup di zaman yang terdapat seabrek teori pendidikan anak sehingga kadang membuat kita pusing sendiri. Salah satu ajaran teori pendidikan anak yang masyhur adalah hindari menggunakan kata “jangan”. Konon katanya anak cenderung melupakan kata “jangan” sehingga kalau kita bilang “jangan nakal” maka anak malah merekamnya “nakal”. Teori ini banyak dianut psikolog dan pakar pendidikan anak zaman sekarang meskipun ini bertentangan dengan apa yang diajarkan Luqman as kepada anaknya di Al Qur’an surat Luqman. Ada juga yang orang yang tidak jelas manhaj nya berusaha menggabungkan kata “jangan”  untuk masalah aqidah sedangkan di luar itu maka sebaiknya dihindari. Saya pribadi tidak tertarik dengan pernak-pernik teori parenting dan pendidikan anak sekarang. Kebanyakan dari teori-teori tersebut hanya diujikan pada sejumlah sampel tertentu dan generasi tertentu saja.

Kayyisah menggambar

Kayyisah menggambar

Oke lah, daripada panjang lebar bahas teori pendidikan anak, saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman pribadi bersama Kayyisah tentang kata “jangan” dan sejenisnya. Ada dua buah kasus yang ingin saya ceritakan.

Kayyisah dan film sofia the first

Film animasi sofia the first biasanya diputar di MNCTV sekitar jam 6 pagi. Dulu si kayyis hampir selalu nonton film itu. Sebenarnya sih saya udah gak nyaman dengan film tersebut karena sangat banyak mengandung sihir. Akan tetapi, karena tidak ada tontonan lain dan sikap menggampangkan kami dengan asumsi Kayyisah masih kecil maka kami biarkan Kayyis menonton. Suatu ketika saat menemani Kayyisah menggambar, saya melihat dia menggambar bentuk “oval” berwarna ungu.

Gambar apa itu kayyis?” Tanya saya
Ini jimat sofia, cantik warna ungu” jawabnya dengan polos

Spontan kejadian tersebut membuat saya shock. Kayyis bisa sampai hafal sedetail itu film sofia. Saya langsung sobek gambar tersebut. “Jangan gambar jimat. Itu jelek. Tidak boleh nonton sofia lagi” kira-kira seperti itu kata-kata saya. Tentu saja Kayyisah langsung nangis sejadi-jadinya. Tidak pernah dia melihat abi nya tidak menghargai karyanya, apalagi sampai menyobeknya. Setelah nangisnya agak reda, saya peluk dia sembari diberi pengertian. “Jangan gambar jimat lagi ya, itu jelek“. Kami pun mengambar yang lain.

Keesokan hariya, di jam yang biasanya dia nonton sofia, Kayyis meminta diputarkan sofia. Kembali saya bilang kepadanya, “Gak boleh nonton sofia ya, jelek”. Dia pun nangis merengek, tapi saya tidak turuti. Saya alihkan ke tontonan yang lain. Jika tidak ada, diajak main yang lain. Hal ini terus berulang-ulang beberapa hari. Akhirnya, dengan izin Allah, dia tidak lagi minta diputarkan sofia. Bahkan ketika tidak sengaja keputar film sofia saat mindahin channel, Kayyisah selalu teriak:

“Abi, gak boleh nonton sofia..jelek”

Dia terus mengulang-ulang hal itu sampai pindah channel atau tv dimatikan.

Bagi sebagian orang, film tersebut mungkin film biasa buat anak-anak. Namun, bagi seorang muslim maka film tersebut sangat berbahaya untuk aqidah anak-anak karena sangat kental dengan nuansa sihir. Kejadian Kayyisah menggambar jimat merupakan kelalaian luar biasa yang saya lakukan karena sudah menyentuh masalah aqidah. Alhamudillah, Allah memberi kesempatan memperbaiki kesalahan tersebut sebelum susah diperbaiki.

Kayyisah dan iklan/tayangan sampah

Tayangan sampah yang saya maksud adalah  tanyangan-tayangan semacam acara Dahsyat, Faceboker, dll. Biasanya acara Dahsyat gak sengaja terputar  setelah Kayyisah nonton film Doraemon sedangkan Faceboker tidak sengaja setelah film Curious George.  Begitu masuk acara tersebut, saya sering mematikan tv dan bilang ke Kayyisah : “Tidak boleh nonton itu ya, jelek“. Hal ini terus berulang-ulang. Alhamdulillah, sekarang kayyisah kalau tidak sengaja melihat acara itu bahkan acara lain yang sejenis dengan itu, dia langsung ngomong : “Tidak boleh, jelek” sembari langsung mematikan tv dan kembali main yang lain.

Adapun iklan sampah yang saya maksud adalah iklan-iklan yang banyak adegan dan musik yang vulgar, misalnya obat masuk angin (lupa namanya). Iklan sampah tersebut kadang muncul di sela-sela film kartun anak-anak kesukaan kayyisah seperti Ipin-Upin, Pada Zaman Dahulu, dan Bo Boi Boy. Setiap ada iklan tersebut saya selalu memindahkan channel dan mengatakan ke kayyis, “gak boleh, jelek“. Hal ini terus berulang-ulang. Akhirnya, setiap kali ada iklan tersebut dan sejenisnya, kayyisah selalu teriak (dia belum bisa mindahin channel), “abi, gak boleh, jelek..“. Dia tidak berhenti berteriak hingga abinya memindahkan channel tersebut.

Konsistensi dan keteladanan, itulah faktor yang paling penting

Kisah yang saya sampaikan tentu belum  bisa digenalisir. Cara saya mendidik kayyisah juga belum tentu terbukti, apalagi usia kayyis baru empat tahun. Satu hal yang pasti, keteladanan orang tua yang jauh lebih penting. Kita tidak akan pernah berhasil membuat anak kita berbuat sesuatu jika kita sendiri tidak melakukannya. Kita juga tidak akan pernah sukses menjauhkan anak dari hal-hal buruk jika kita sendiri melakukannya. Para Ulama juga mengatakan (saya lupa redaksi lengkapnya) :“murid lebih dulu mengambil adab dari guru nya sebelum mengambil ilmunya”

Disamping keteladanan, konsistensi merupakan hal yang tidak kalah penting. Jika kita melarang anak melakukan sesuatu maka kita harus konsisten melarangnya. Semakin sering kita memberikan pengecualian maka anak akan semakin menganggap larangan itu tidak penting. Hal yang sama berlaku terhadap perintah kepada anak.

Ada sepenggal kisah bersama kayyis tentang konsistensi. Dulu di usia kayyisah 3 tahun lebih sedikit, kami sering mengajarkan baca IQRA’ . Metode yang sama yang diajarkan guru-guru abi dan uminya sewaktu masih kecil sehingga sebelum usia 5 tahun bisa baca Qur’an. Waktu itu, sungguh luar biasa perkembangan kayyis membaca IQRA bahkan (kalau tidak salah) dalam dua bulan dia udah masuk di jilid dua (tentang panjang-pendek) dengan makhroj yang lumayan bagus untuk anak seusianya dan hafalan beberapa surat padahal ngomong sehari-hari saja masih tidak jelas. Namun, karena sesuatu hal, kami kurang konsisten menjaganya. Akibatnya, kayyis kembali ke jilid 1 dan hafalan Qur’annya nambahnya dikit sekali. Alhamdulillah sekarang kami dan kayyisah udah mulai bisa isqtiomah lagi dengan belajar IQRA dan muroja’ah hafalannya setelah shalat maghrib. Bahkan, kayyisah sering minta IQRA’ jika kami lupa mengajarinya,”abi, iqro kitabak

Penutup

Penggunaan kata larangan seperti “jangan” dan “tidak boleh” selama diikuti oleh keteladanan dan konsistesi akan memberi pengaruh yang kuat kepada anak dibandingkan hanya sekedar kalimat positif. Ini tidak hanya masalah aqidah saja, namun juga dalam hal akhlak dan lainnya. Seperti itulah yang diajarkan Luqman kepada Anak-anaknya. Namun, jika tanpa disertai keteladaan dan konsistensi maka maka akan menjadi bumerang bagi orang tua.

Bukankah Luqman ketika melarang anaknya berbuat syirik, beliau tinggalkan dulu semua kesyirikan?
Bukankah Luqman ketika melarang anaknya berbuat angkuh, beliau tinggalkan kesombongan terlebih dulu?

 

Related Post