Socialbot, Fake Like-Follower dan “Penipuan” ala Angkot Ngetem

Artikel ini dilihat sebanyak 500 kali

Sering kita menjumpai angkot yang ngetem di terminal yang ada isinya beberapa orang. Tidak lama setelah kita masuk, eh tiba-tiba sebagian dari “penumpang” keluar bahkan supirnya kadang-kadang mematikan mesin lalu ikut keluar juga dan digantikan supir yang lain. Tinggallah kita dan sebagian sisa penumpang bermuka kecut lagi kecewa menikmati ngetem nya angkot. Fenomena ini memang biasa terjadi di terminal, tetapi apakah ini sebuah “penipuan”? Belum tentu. Presepsi kita sebagai penumpang bisa saja beda dengan presepsi penumpang palsu (fake passenger) dan mang supir angkot. Mungkin kita menganggap mereka sebagai penumpang padahal mereka kan hanya duduk di bangku penumpang dan supir. Akan tetapi, saya yakin niatan mereka sebenarnya agar disangka angkot tersebut telah banyak penumpang. Nah, disinilah letak ketidak jujuran itu muncul meski kalau dibilang “penipuan” sih terlalu kasar.

gambar asal comot

gambar asal comot

Kita beralih dari terminal ke pasar. Kita sering menyumpai di emperan pasar ada penjual-penjual obat yang khasiatnya “too good to be true”  namun banyak orang yang berkumpul di sana bahkan ada yang terlihat mau membeli barang tersebut. Fenomena ini juga banyak dijumpai di toko makanan (utamanya yang masih baru). Tujuannya sama yaitu agar terkesan bahwa toko tersebut laris sehingga calon konsumen tertarik untuk membeli. Apakah ini sebuah “penipuan”? Lagi-lagi jawabannya sama, yaitu tergantung presepsi siapa yang digunakan. Menurut fake customer sih mereka kan hanya duduk-duduk di toko tersebut. Penjual juga gak bisa divonis menipu selama barang/jasa yang mereka jual dan pelayanan mereka sesuai yang mereka janjikan. Pembeli pun merasa tidak tertipu selama  mereka mendapatkan barang/jasa dan pelayanan yang sesuai dengan mereka ekspetasikan. Akan tetapi, jika kembalikan ke niat melakukan hal itu, tentu saja niatnya agar calon pembeli merasa bahwa penjual tersebut laris. Di sinilah letak ketidakjujuran itu.

tukang-obat

Okay, kita beralih lagi lapak yang saya sukai (meski ane jarang maen ke sana..) yaitu kaskus. Ini akan menjadi jembatan dua contoh kasus di atas ke pokok bahasan tulisan ini, yaitu socialbot. Pernahkah agan dapat pm (private message)  seperti ini :
kaskus-pm-cendolHampir semua kaskuser tentu pernah dapat tawaran untuk beli cendol atau bata bahkan id kaskus tua.  Semakin banyak cendol maka semakin banyak orang yang suka dengan kita (baik postingan, komentar maupun pelayanan fjb kita). Sebaliknya, semakin banyak bata maka semakin buruk image kita karena menandakan banyak orang yang tidak suka dengan kita. Biasanya pembeli akan mencari yang banyak cendol dan sedikit bata sebagai screening awal. Nah, ini memunculkan bisnis jual beli cendol dan bata untuk menaikkan reputasi seseorang atau malah menjatuhkan reputasi lapak saingan di FJB kaskus. Meskipun tawaran via pm tersebut bisa  dilakukan oleh bot (bukan real human), namun proses cendol dan bata (menurut pemahaman saya tentang IT yang sangat minim) masih dilakukan secara manual dengan menggunakan banyak kaskus ID senior. Kembali ke pertanyaan dua kasus di atas, apakah fake reputation merupakan “penipuan”? Penjual tidak bisa disebut “menipu” selama mereka menjual barang yang sesuai kesepakatan dan memberikan pelayanan yang baik. Pembeli juga tidak merasa “tertipu” selama barang/jasa yang diterima sesuai dengan kesepakatan dan mendapatkan pelayanan yang baik. Akan tetapi, jika kita balikkan ke niat menggunakan fake reputation, tentu niatnya adalah agar calon pembeli merasa bahwa reputasi kita di kaskus sangat bagus padahal reputasi kita belum sebagus yang dibayangkan konsumen. Di sinilah ketidakjujuran itu terjadi.

Tiga fenomena di atas merupakan gambaran adanya fake passenger, fake buyer, dan fake reputation yang tujuannya sama, yaitu untuk menarik calon pembeli (atau penumpang). Modusnya juga sama yaitu masih secara manual atau real human. Nah, terus apa hubungannya dengan socialbot? Karena saya bukan orang IT, saya kutipkan arti socialbot dari www.techopedia.com

A socialbot is a type of bot that controls a social media account. Like all bots, a socialbot is automated software. The exact way a socialbot replicates depends on the social network, but unlike a regular bot, a socialbot spreads by convincing other users that the socialbot is a real person.

A socialbot is also known as social networking bot, or social bot.

bits bot tmagArticle
Layaknya manusia, socialbot bisa melakukan posting, like, comment, tweet, re-tweet, follow, unfollow, dll secara otomatis sesuai yang diinginkan.  Ini semua tentu saja sangat mempermudah tugas kita, apalagi yang sebagian besar aktivitasnya di dunia maya. Akan tetapi, socialbot, layaknya pisau, manfaat atau mudharatnya tergantung pada niat penggunanya. Oleh karena itu, tulisan ini saya batasi pada kasus penggunaan socialbot untuk memanipulasi reputasi suatu akun media sosial, khususnya olshop.
Pernahkah kita menemukan hal-hal ini:
  1. Akun FB/Twitter/Instagram, terutama olshop yang biasa-biasa saja dan masih baru, tapi memiliki ribuan follower atau likes?
  2. Jasa jual beli follower dan likes instagram atau facebook fan page?
  3. dan yang semacam dengan itu?

jasa-IG

Itu semua dilakukan menggunakan socialbot. Apakah itu “penipuan”? Jawabannya tidak jauh beda dengan ketiga fenomena sebelumnya. Selama seller menjual barang/jasa sesuai kesepakatan dan memberikan pelayanan yang baik, tentu kita tidak bisa vonis mereka melakukan penipuan. Hal yang sama juga pada buyer, selama mereka mendapatkan apa yang mereka beli dan pelayanan yang baik, tentu saja mereka tidak akan merasa tertipu.  Namun, jika kembali ke pertanyaan mendasar, “apa sih tujuan seller menggunakan fake follower atau like?”. Tentu saja jawabannya untuk meningkatkan reputasi toko online atau produk mereka. Nah, di sinilah letak ketidakjujurannya.

Mari kita renungkan?

Kalau kita pikirkan secara jernih, sebenarnya like, follower, dll semuanya menggambarkan bahwa akun atau tulisan atau produk tersebut disukai. Misalnya kasus like dan follower sebuah olshop di IG. Sebuah  likes atau follower di akun tersebut  harapannya menggambarkan (dan ini yang dipresepsikan oleh mayoritas konsumen) adalah

  1. Seseorang mengenal olshop tersebut (terutama pribadi sellernya)
  2. Seseorang yang telah membeli produk di sana dan puas dengan pelayanan serta produknya
  3. Bukan keduanya, namun suka dengan tampilan toko/produknya atau bahkan udah pernah berkomunikasi dengan seller, namun tidak jadi beli (karena sesuatu hal) dengan tetap puas terhadap pelayanan seller.

Itu semua sebenarnya yang diharapkan oleh calon konsumen terhadap makna dari banyaknya follower suatu olshop atau likes sebuah produk. Nah, kalau kita menggunakan socialbot untuk memanipulasi reputasi toko online atau produk kita melalui banyaknya follower dan likes, buat apa? Kalau sekedar agar toko online/produk kita terlihat bagus sehingga orang akan membeli maka satu hal yang pasti bahwa yang menggerakkan hati konsumen untuk membeli dagangan kita adalah Allah Yang Kuasa dan Maha Pemberi Rezki. Sangat mudah bagi-Nya untuk membuat orang bertransaksi di tempat kita meskipun olshop kita memiliki cendol, follower, testimoni dan likes yang sedikit (tapi real). Terus mengapa kita harus memanipulasi reputasi olshop kita dengan fake follower, fake likes atau fake cendol? Lebih baik kita perbaiki produk dan pelayanan kita daripada melakukan ketidakjujuran tersebut.

Simpulan

Sebagai calon buyer, tidak selamanya olshop yang memiliki likes dan follower yang tinggi akan memberikan pelayanan yang bagus karena fake follower dan likes dalam banyak kasus bukanlah manusia real dan bisa dipesan…

Sebagai olshop, sebaiknya tidak usahlah pakai follower dan likes yang tidak real. Satu testimoni/follow/likes real dari konsumen kita jauh lebih menyenangkan daripada 100 yang fake. Toh, Allah yang menggerakkan hati konsumen untuk membeli dagangan kita

 

 

Allahu a’lam

—————————————————————————————————————————————–

—————————————————————————————————————————————-