Akhirnya, Saya haramkan beasiswa LPDP untuk diriku dan keluarga kecilku

Artikel ini dilihat sebanyak 49,418 kali

Disclaimer:

  1. Saya memaksakan keyakinan ini kepada diri saya dan keluarga kecil saya, bukan untuk orang lain. Kenapa? karena saya bukan ulama sehingga saya tidak berhak memberikan suatu fatwa, apalagi menyangkut halal-haram.
  2. Bagi yang mempercayai kebenaran tulisan ini, maka tolong dicek  lagi sumber asli nya sehingga keyakinan tersebut menjadi semakin kuat dan diberi kekuatan Allah menjalani konsekuensinya.
  3. Bagi yang tidak mempercayai maka silahkan mencari sumber yang lebih terpecaya, syukur2 bisa bertanya langsung ke ulama. Tentu kita harus memberikan informasi yang akurat kepada ulama tersebut. Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang terbaik.

Permintaan Maaf

Saya menghapus chat history whatsapp terkait percakapan teman saya dengan manajemen LPDP. Hal ini disebabkan saya tidak meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan, apalagi nama inisal dan sapaan tercantum di chat tersebut dan yang bersangkutan menganggap chat yang saya sampaikan tidak lengkap karena instrument tersebut. Saya meminta maaf kepada yang bersangkutan dan pembaca atas perbuatan saya tersebut. (30 Juli 2015, 00.10)

Pertanyaan-pertanyaan umum terkait artikel ini

Q: Ente kok berani kasih fatwa padahal ente bukan mujtahid?
A: Tulisan ini bukan fatwa. Apalah diri saya, belajar nahwu dasar saja belum tamat. Tulisan ini juga tidak mengikat siapaun selain diri saya dan tanggungan saya.

Q: Jika begitu, kok share di blog dan ruang publik?
A: Banyak orang-orang menghindari sekuat mungkin harta yang berasal dari riba. Banyak di antara mereka yang akan atau sedang daftar beasiswa, tapi tidak tahu sumber dana beasiswa nya. Jika tahu sumber nya dari riba tentu mereka akan menghindarinya. Saya punya tanggung jawab menyampaikan hal ini ke mereka.

Q: Saya gak percaya tulisan ente? dangkal banget analisa nya
A: makasih telah baca tulisan saya.

lpdp

Saat ini beasiswa LPDP merupakan sebuah primadona dan harapan segar bagi orang-orang yang ingin melanjutkan studi lebih lanjut baik S2 maupun S3. Jumlah uang yang lumayan dan kebebasan untuk memilih kampus di dalam negeri maupun luar negeri serta kuota yang lumayan besar tentu saja sangat menggiurkan. Apalagi, track record pencairan beasiswa yang tidak ngaret tentu menambah pesona beasiswa LPDP.

Saya pun dulu sangat bersemangat untuk mendapatkannya. Pengalaman beasiswa DIKTI yang super ngaret bahkan 9 bulan (kayak ibu mengandung saja) saat S1 dulu membuat saya sempat skepstis dengan beasiswa dari pemerintah. Namun, testimoni dari teman-teman yang lebih dulu tentang profesionalitas pengelolaan beasiswa LPDP membuat saya sangat bersemangat untuk mendaftar. Bahkan, sempat daftar pula, tapi gak lolos di tahap administrasi karena berkas yang saya upload kurang lengkap (maklum waktu itu lagi buru-buru karena deadline). Di gelombang kedua saya mempersiapkan jauh lebih baik dari jauh-jauh hari hingga ada sebuah statement kawan yang memancing saya untuk meneliti lebih lanjut sumber dana beasiswa. Waktu itu sebenarnya lagi ramai tentang tunjangan hari tua BPJS ketenaga kerjaan sih.

Okelah, langsung to the point. Apa yang membuat saya berkeyakinan bahwa beasiswa LPDP itu haran.

Pertama, Sumber dan Pengelolaan Dana LPDP

Ini merupakan masalah paling krusial. Oke lah,

Darimanakah sumber awal beasiswa LPDP? dari APBN dan saya yakin itu halal. Terus kenapa saya mengharamkan beasiswa LPDP? ternyata dana tersebut tidak berhenti disitu. Dana tersebut (aka Dana Abadi) diinvestasikan oleh LPDP ke deposito dan SUN. Nah, bunga depostito dan SUN yang mereka sebut hasil investasi itulah yang nanti diberikan kepada penerima beasiswa LPDP dan untuk membiayai operasional LPDP. Keharaman bunga bank akan saya bahas di bagian kedua. Jadi, yang kita makan, pakai buat sewa rumah, bayar kuliah, penelitian, dll adalah dari bunga deposito dan SUN tersebut, bukan dari APBN.

Oke, tentu sebagai seorang akademisi kita harus mencek kebenaran informasi yang kita  dapat atau berikan.

Tentang pengelolaan dana LPDP, kita bisa cek di laman resmi LDP (silahkan klik: link 1: Pengelolaan Dana LPDP dan link 2: Kebijakan Investasi LPDP)

pengelolaan LPDPKita bahas satu-satu (yang link pertama):
Point 1 (yang saya kotaki merah) menegaskan bahwa yang dipakai untuk program beasiswa dan biaya operasional adalah hasil investasi (yang nanti kita ketahui bunga deposito dan SUN), bukan dana abadi (yang berasal dari APBN).
Point 2(yang saya kotaki hitam) adalah alokasi penggunaan dana investasi tersebutPoint 5 (yang saya kotaki hijau) adalah tempat investasi yang dana abadi tersebut, yaitu SPN dan investasi tetap (aka deposito bank)

Untuk melihat lebih detail tempat investasinya kita lihat link kedua
kebijakan-investasiTerlihat dengan jelas bahwa instrumen investasi nya adalah deposito dan surat berharga negara/SUN.

Tentu saja, kita tidak boleh hanya memgambil informasi dari satu sumber  meskipun sumber informasi tersebut berasal dari laman resmi yang sangat kuat. Saya coba minta tolong teman untuk menanyakan kepada orang dalam LPDP terkait hal ini. berikut hasil obrolan whatsapp teman saya dengan orang yang bekerja di LPDP (nomor saya hidden dan nama dibuat inisal untuk menjaga privasi )

Saya menghapus chat history whatsapp terkait percakapan teman saya dengan manajemen LPDP. Hal ini disebabkan saya tidak meminta izin terlebih dahulu untuk melakukan, apalagi nama inisal dan sapaan tercantum di chat tersebut dan yang bersangkutan menganggap chat yang saya sampaikan tidak lengkap karena instrument tersebut. Saya meminta maaf kepada yang bersangkutan dan pembaca atas perbuatan saya tersebut. (30 Juli 2015, 00.10)

Update (30 Juli 2015, 00.27). Saya menambahkan keuangan pengelolaan dana LPDP. Semoga bisa menjadi pembanding. Ada Detail alokasi investasi di bank konvensional dan bank syariah.link: laporan-keuangan-lpdp-audited-2014-sak_2

Dari sumber-sumber tersebut, saya meyakini dengan sangat yakin (kalau di bahasa arab harusnya pake masdhar taukid) bahwa beasiswa LPDP berasal dari bunga deposito dan surat uang negara

Kedua, hukum  riba dan bunga bank (termasuk deposito)

  1. Hukum riba termasuk memakan hasilnya adalah haram berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ para ulama (dari zaman sahabat, tabi’in, para imam madzhab dan setelahnya maupun ulama kontemporer).
  2. Bunga yang diperoleh dari deposito dan SUN adalah riba yang jelas keharamannya.
  3. Dana yang digunakan untuk penyedia beasiswa LPDP dan opersionalnya adalah dana haram karena merupakan bunga hasil deposito dan SUN

Kesimpulan saya

Saya kemudian menanyakan ke seorang ustadz (banyak ustdaz sebenarnya, tapi yang jawab cuma satu..heheh). Dan jawabannya

tanya

Kenapa via online? Saya saat ini tinggal ke kota kecil soalnya sehingga akses ke ustadz2 kurang..hehehe

Akhirnya  saya memutuskan untuk diri saya dan keluarga kecil saya  bahwa haram bagi kami mendaftar/menerima beasiswa LPDP mengingat beasiswa tersebut bersumber dari sesuatu yang jelas haram. Sebagaimana haram bagi kita menerima uang hasil rampokan dari seorang perampok dengan alasan buat kuliah lah, makan lah, dll padahal kita tahu itu uang hasil rampokan. Apalagi menerima beasiswa LPDP untuk kuliah S2 dan S3 bukanlah sesuatu yang darurat. Kita dan Umat tidak akan binasa jika  kita tidak menerimanya.

[Update 30 July 2015,] Lha kan ada juga yang bank syariahnya?

Harus diakui bahwa bank syariah merupakan solusi alternatif daripada bank konvensional. Selain itu, ada fatwa MUI tentang kehalalannya. Hanya saja telah menjadi rahasia umum penyimpangan-penyimpangan di bank syariah. Oleh karena itu, saya tidak  berkenan mengambil tambahan atas tabungan atau deposito yang disebut bagi hasil  tersebut karena tidak jauh berbeda dengan bunga bank. Saya tidak mengatakan bagi hasil tersebut riba. Saya tetap menaruh tabungan non komersial saya di bank syariah, tapi tidak mengambil bagi  hasilnya. Silahkan merujuk sumber informasi lain tentang bagi hasil bank syariah. Sudah banyak Ulama-ulama yang membahas penyimpangannya.

Jika seseorang ikut ulama yang berpedapat bahwa bagi hasil bunga syariah halal dan  dia bisa meminta ke LPDP untuk hanya menggunakan dana yang hasil investasi syariah untuk beliau maka  itu bisa menjadi solusi alternatif juga bagi yang ingin tetap mengajukan beasiswa LPDP. Harapannya dengan semakin sadar bahwa riba bank konvensional (yang semua sepakat dengannya) haram maka semakin banyak yang meminta dibiayai dari sektor syariah saja. Akibatnya, LPDP akan memporsikan lebih banyak untuk investasi di bank syariah. itu outcome yang diharapkan dari tulisan ini.

Kalau yang menganggap bagi hasil depostio di bank syariah masih tidak sesuai syariat semacam ane. Maka tidak ada solusi lain selain meninggalkannya

[/Update selesai]

Bagaimana jika dalam kondisi?

  1. Belum inkrah menerima beasiswa LPDP (misal belum daftar, lagi proses seleksi, udah dinyatakan lulus tapi belum PK, atau udah PK tapi belum menerima). Saran saya jika kita meyakini keharaman sumber beasiswa LPDP maka tinggalkan saat itu.  Hal ini karena jika kita udah menerima uangnya maka akan semakin  susah meninggalkannya. Resiko terburuk ya paling dimasukkan daftar hitam saja.
  2. Udah menerima dan udah tidak menerima lagi sekarang karena udah selesai kuliah. saran saya: kita perbanyak memohon ampun kepada Allah dan tidak mengulanginya lagi
  3. Sedang aktif menerima. Ini kondisi paling pelik. Jika kita mampu menghentikan sepihak (mungkin akan diminta ganti uangnya) maka ini yang paling baik, tapi ini paling berat. Jika kita tidak mampu  (menurut saya, harus tanya lagi ke ulama) maka  infaqkkan uang yang biaya hidup dan tempat tinggal, buku dll dan jangan manfaatkan kehidupan kita. Jika kita tidak mampu maka ambil sesuai untuk hidup dan infaqkan sisanya serta perbanyak memohon ampun kepada Allah.

Kesimpulan

Saya mengikuti perkembangan tentang isu LPDP (termasuk isu BPJS) ini dari status saya dan status teman-teman saya baik pro maupun kontra dengan statemen saya. Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan:

1. Semua sepakat bahwa bunga bank adalah riba yang haram dan banyak orang yang tadinya gak mikir riba mulai jadi mikir riba dalam muamalah.
2. Orang jadi mengetahui bahwa dana yang diberikan untuk beasiswa LPDP adalah bunga dari deposito dan SUN. Kalau yang dari bank konvensional (mayoritas) maka semua sepakat dana itu haram sedangkan yang di bank syariah masih banyak yang berbeda pendapat apakah bagi hasil itu halal dan haram mengingat banyak penyimpangan akad di bank syariah
3. Berikutnya, ini yang berbeda pendapat cukup tegas yaitu bolehkah meminta beasiswa dari hasil bunga tersebut
a. Ada yang membolehkan dengan terbatas. Jika bisa ditinggalkan lebih baik.
b. Ada yang melarang karena beasiswa bukan sektor infrastrukur yang dihinakan penggunaannya

Sebenarnya kajian tentang ini akan sangat menarik jika MUI bisa mengeluarkan fatwa (setidaknya pendapat resmi) tentang hal ini sebagaimana BPJS. Jika nanti keluar fatwa halal maka dengan senang hati saya akan hapus tulisan saya untuk mencegah pembahasanan yang tidak bermanfaat. Selain itu, tujuan tulisan ini telah tercapai, yaitu masyarakat tercerahkan tentang riba. Jika keluar fatwa haram atau tidak sesuai syariah maka semoga LPDP bisa mengikuti rekomendasi MUI meskipun saya yakin banyak sahabat2 di LPDP yang berusaha agar porsi syariah makin besar (terlepas dari perselisihan hukum bagi hasil di bank syariah di atas). Saya juga akan menyesuaikan tulisan tersebut dengan pendapat MUI.

Saya akui memang kata-kata “Aku haramkan” memang frontal bahkan ada yang menganggap saya lancang berfatwa. Baru kepikiran kenapa tidak milih diksi nya ustadz Syafiq saat bahas keharaman musik: Bagiku, musik itu halal? padahal isi buku dan kajiannya melemahkan pendapat yang menghalalkan musik dan menguatkan pengharaman musik. Akan tetapi, judul yang terlalu halus juga tidak cukup membuat orang penasaran dan mencari lebih detail isu yang diangkat.

Kalau perdebatan masih dipoint 3 a dan b inysa Allah masih sehat. Semoga hati kita diyakinkan pada kebenaran meskipun pada akhirnya mengambil pendapat yang berbeda. Tapi jika perdebatan tentang barisan sakit hati atau galau gak lulus maka ya sudahlah…

Penutup (kembali ke disclaimer …hehe)

  1. Saya memaksakan keyakinan ini kepada diri saya dan keluarga kecil saya, bukan untuk orang lain. Kenapa? karena saya bukan ulama sehingga saya tidak berhak memberikan suatu fatwa, apalagi menyangkut halal-haram.
  2. Bagi yang mempercayai kebenaran tulisan ini, maka tolong dicek  lagi sumber asli nya sehingga keyakinan tersebut menjadi semakin kuat dan diberi kekuatan Allah menjalani konsekuensinya.
  3. Bagi yang tidak mempercayai maka silahkan mencari sumber yang lebih terpecaya, syukur2 bisa bertanya langsung ke ulama. Tentu kita harus memberikan informasi yang akurat kepada ulama tersebut. Semoga Allah menunjukkan kita jalan yang terbaik

Related Post