Membuka Tabir Jihad bagian 1 : makna dan kedudukan jihad

Artikel ini dilihat sebanyak 145 kali

Akhir-akhir ini pemberitaan tentang terorisme semakin marak menghiasi berbagai media informasi. Banyaknya aksi pemboman maupun teror yang diklaim sebagai “jihad” telah menyita perhatian masyarakat. Akibatnya, banyak orang dengan bebas berkomentar tentang masalah terorisme dan jihad meskipun mereka sebenarnya tidak memiliki pengetahuan tentang masalah jihad, apalagi pernah ikut berjihad fisabilillah.Padahal, suatu permasalahan kalau tidak diserahkan ke ahlinya maka akan bertambah parah masalah tersebut. Logikanya, ketika kita mempunyai masalah tentang kimia, kita akan bertanya ke ahli kimia, bukan ke ahli IT. Ketika kita ingin tanya tentang shalat kita akan bertanya ke orang yang ahli shalat yang senantiasa menjaga shalatnya, bukan ke orang yang jarang shalat. Hal yang sama seharusnya ketika kita bingung tentang jihad maka kita harus menanyakan ke orang yang pernah berjihad dan faham tentang jihad, bukan ke orang yang tidak pernah merasakan panasnya peperangan di Jalan Allah. Oleh karena itu, pembahasan tentang jihad berikut saya ambil dari buku Syari’at Jihad karangan Dr. Abdullah Azzam. Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam jihad afghanistan melawan penjajah komunis, Uni Soviet tahun 80-an. Beliau juga seorang alim yang menimba ilmu di Mekkah hingga beliau meninggalkan pekerjaannya tersebut untuk fokus di medan Jihad. Beliau juga salah satu tokoh Ikhawanul Muslimin yang ikut di jihad Palestina tahun 67-an.

Makna Jihad

Jihad secara bahasa berasal dari kata jahada – yajhadu – jahdan. Jika dibaca al-juhdu maka berarti kemampuan sedangkan jika dibaca Al-jahdu berart kepayahan atau puncak.

Secara syar’i maka para ulama telah sepakat jihad berati berperang dan tolong-menolong di dalamnya. Imam Hanafi berkata ” jihad adalah menyeru orang kafir kepada dien islam dan memerangi mereka jika tidak mau menerimanya” (Fathu Qadir, 5/781). Ulama malikiyah mengatakan jihad adalah orang memerangi orang kafir yang tidak ada perjanjian untuk menegakkan Kalimatullah atau mendatangi mereka atau memasuki buim atau negaranya. Hal senada jug diungkapkan ulama Safi’iyah dan Hanabillah.

Jadi Jihad Fisabillah itu berarti berperang di jalan Allah untuk menegakkan kalimat Allah

Kedudukan jihad

Jihad atau berperang di jalan Allah adalah puncak segala amal ibadah seorang muslim. Dalam kitab hadist arba’in karangan Imam Namawi, beliau mengutip hadist yang diriwayatkan Imam Tarmidzi dengan status hasan-shahih Rasulullah bersabda ‘ Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncaknya adalah jihad’.
Imam Bukhari meriwayatkan, “Rasulullah SAW pernah ditanya, ‘amal apakah yang pahalanya setara dengan pahala seorang mujahid?’ Beliau bersabda, ‘ Kalian tidak akan bisa melakukannya.’ ‘Amal apakah itu?’….’Kalian tidak akan bisa mengerjakannya.’ Kemudian beliau bersabda, ‘ Apakah kalian mampu mengerjakan, yaitu kalian masuk masjid dan kalian shalat tanpa henti, atau berpuasa tanpa berbuka?’ Orang-orang itu berkata,’ Siapakah orang yang mampu melakukan hal itu?’ Beliau bersabda, ‘Itulah pahala seorang mujahid, permisalan mujahid yang berjihad di jalan Allah adalah serupa dengan orang yang terus berpuasa tanpa berbuka dan serupa dengan orang yang terus mengerjakan shalat dan qiyamullail tanpa berhenti, engkau tidak berhenti mengerjakan qiyamullail dan puasa hingga sang mujahid pulang.”

Jihad juga merupakan pembeda antara seorang mukmin dengan orang-orang munafik. Di al-qur’an, terutama surat at-taubah Allah menjelaskan bahwa orang-orang yang malas berperang di jalan Allah dengan alasan-alasan yang dibuat-buat adalah orang munafik. Imam muslim meriwayatkan, Rasulullah bersabda, ‘Barangsiapa yang mati sedangkan dia tidak pernah berperang di jalan Allah dan tidak pernah terbesit dalam dirinya keinginan untuk berperang, maka dia mati dalam salah satu cabang kemunafikan.”

 

Related Post